Implementasi Teknologi : Kecerdasan Buatan untuk Ujian

Jika di post sebelumnya sudah dibahas tentang bagaimana Watson bisa mempelajari internet, membuat sebuah kesimpulan, dan kemudian menarik kesimpulan dari presentasi kemungkinan jawaban terbesar, maka ada kemungkinan teknologi tersebut dikembangkan lebih lanjut di dunia pendidikan.

Fungsi Watson yang menjawab pertanyaan, bisa dibalik menjadi membuat pertanyaan. Sebuah fakta (atau dalam hal ini topik bahasan) menjadi bahan input, kemudian komputer akan membuat dan/atau mencari sejumlah pertanyaan dengan topik yang terkait. Selain teknologi mempermudah para pembuat soal untuk menghemat waktu membuat soal, variasi soal pun bisa bermacam-macam, mengingat kreativitas guru yang seringkali terbatas dalam membuat soal ujian.

Kecerdasan buatan seperti Watson bisa dikembangkan untuk hal-hal yang luar biasa. Sayangnya banyak produser film Hollywood kerap menanggapi dengan tanggapan negatif, menggambarkan kecerdasan buatan mengambil alih dunia.

Iklan

Bitcoin vs Credit Card

Sebelum membahas tentang persaingan antara bitcoin dan kartu kredit, kita harus mengetahui tentang bitcoin sendiri. Bitcoin konon didirikan dengan seorang anonimus menggunakan nama palsu Satoshi Nakamoto dengan tujuan membawa cara baru bertransaksi di dunia maya. Bitcoin mempunyai mata uang sendiri, BTC, yang harganya terus menerus berubah. Beberapa anggota awal Bitcoin di tahun 2009 sudah banyak yang memanen uang hasil investasi mereka, yang bisa saja bernilai lebih dari jutaan rupiah.

Sekarang, masuk ke pertanyaan terpenting, apa bedanya dengan kartu kredit? Bukankah kartu kredit sudah terjamin keamanannya, jauh lebih dulu sebelum eksistensi Bitcoin? Mungkin dalam bidang “who comes first”, kartu kredit akan memenangkan pertandingan, namun dalam bidang kerahasiaan pembeli / pengguna, bitcoin jelas menjadi pemenang utama. Sejak bitcoin memiliki mata uang sendiri, itu berarti bitcoin tidak terikat dengan bank manapun, yang berarti tidak adanya keterikatan, tidak adanya identitas yang tersimpan. Transaksi anonimus adalah hal yang ditawarkan. Lebih dari itu, transaksi bitcoin bisa dilakukan secara digital dan relatif lebih aman, karena dalam setiap transaksi bitcoin, identitas kedua pihak tidak pernah ditunjukkan. Selain itu, bitcoin adalah ajang untuk berbisnis. Investasi bitcoin adalah hal yang cukup baru di Indonesia, tapi penggunaanya sudah banyak yang digemari. Investor di bitcoin membeli saat harga yang miring, kemudian berharap bisa menjual saat harganya naik.

Lebih dari sekedar itu, banyak penjual lebih memilih bertransaksi menggunakan bitcoin karena fee di bitcoin jauh lebih kecil dibandingkan dengan kartu kredit.

Walaupun kedengarannya menjanjikan, eksistensi Bitcoin masih seperti pedang bermata dua. Keejahatan yang bermoduskan btc sudah marak terjadi di luar negeri karena transaksi btc bisa dilakukan sama seperti transfer data antar bluetooth, dengan menghubungkan dua buah device.

Sneak Peek : Google DeepMind and IBM Watson

Sebuah perusahaan bernama DeepMind, yang berfokus kepada mesin yang mempelajari manusia, yang berfungsi untuk memecahkan masalah. Deepmind adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang Artificial Intelligence.

DeepMind lebih memfokuskan teknologi yang akan mempelajari tentang bagaimana manusia berinteraksi dan beraktivitas. Misi dari DeepMind adalah mempelajari tentang sistem neuro manusia, cara untuk komputer berpikir dengan manusia.

Berbeda dengan DeepMind, IBM Watson diciptakan dan dikembangkan untuk “menjawab” pertanyaan manusia. Watson akan menganalisa setiap tulisan yang ada di internet, dan kemudian melakukan banyak perhitungan yang akan membawanya ke beberapa kesimpulan dengan jumlah presentase ketepatan jawaban yang berbeda. Watson akan memilih kesimpulan dengan presentase ketepatan jawaban yang tertinggi. Kecanggihan Watson telah terbukti mengalahkan manusia di acara Jeopardy!, sebuah acara quiz yang membahas tentang hampir segala topik.

DeepMind sudah diuji coba saat mempelajari manusia dalam memainkan game Atari. Dan terbukti DeepMind bisa mengalahkan high score yang diciptakan oleh manusia. DeepMind tidak “mengakali” sistem game, tapi mempelajari dari manusia.

DeepMind, Watson, dan banyak lagi program riset dalam bidang AI merupakan sebuah langkah kecil teknologi untuk manusia menciptakan Robot Maid.

Implementasi Data Mining : Penghitungan Tingkat Kepopuleran

Masih segar diingatan kita di pemilihan presiden 2014 kemarin, dimana kedua kubu benar-benar bersaing untuk memperebutkan kursi pemimpin nomor wahid di Indonesia. Tim sukses kedua calon bersama-sama dengan para relawan beramai-ramai mempromosikan pemimpin idola mereka, secara terus menerus tanpa kenal lelah, 24 x 7. Hal itu membuat saya terpikir, apakah efektif ? Untuk apa mempromosikan sebuah produk A, jika subjek target promosi sudah menjadi pelanggan tetap produk B ?

Untuk menghindari hal tersebut, hal yang harus dilakukan adalah mengetahui target promosi kita. Apakah sudah memiliki pilihan yang tetap, atauu apakah ada kemungkinan berubah. Dengan begitu, “promosi” bisa menjadi lebih efektif dan tepat sasaran. Karena tidak semua orang ingin dijejali dengan hal yang sama terus menerus, padahal pilihannya sudah jatuh ke lain hati.

Cara mengetahui pilihan target bisa dengan 2 jalan, menanyai secara langsung (which I consider it’s kind of creepy) atau mengetahui apa yang sedang dipikirkan target promosi. Mengetahui isi kepala dari seseorang hanya bisa dilakukan dengan melakukan “ramalan”, atau mengetahui segala sesuatu yang di postnya secara online. Mengapa postingan di internet ? Karena pada faktanya, pada zaman sekarang, apa yang dipikirkan oleh seseorang akan langsung di post di akun sosial media pribadi mereka masing-masing. Jika kita bisa menggali segala aktivitas internet, seperti postingan facebook, tweet, dan sebagainya, maka kita bisa saja menggambarkan preferensi seseorang. Apakah seseorang akan memilih sesuatu atau tidak. Apakah dia sudah memiliki pilihan yang tetap atau belum.

Aplikasi seperti ini tidak hanya bisa diterapkan di bidang politik, namun juga di bidang pemasaran. Daripada repot-repot memasarkan barang kepada target yang secara jelas tidak akan sudi untuk mempertimbangkan membeli, mengapa tidak langsung menawarkan kepada orang yang sudah pasti akan membeli.

“Mengunjungi” tempat bersejarah dengan teknologi

Kegiatan berkunjung tempat bersejarah sebenarnya adalah hal yang menyenangkan, untuk beberapa kalangan yang mempunyai keingintahuan tentang nilai sejarah. Belajar hal-hal baru, melihat replika kejadian yang ada, dan bisa merasakan atmosfer peristiwa berharga adalah beberapa hal yang bisa dilakukan dan dirasakan saat mengunjungi tempat bersejarah. Kegiatan mengunjungi tempat bersejarah jelas butuh waktu yang lowong, mengenal tempat bersejarah tidak tersebar dimana saja seperti jejeran mall yang ada di berbagai kota besar. Namun bagaimana dengan orang-orang yang tidak mempunyai waktu senggang ?

Sebuah implementasi dari teknologi virtual reality bisa sedikit membantu. Yang hanya dibutuhkan adalah penggambaran kembali keadaan yang sama seperti tempat bersejarah yang diinginkan. Atau jika sebuah device virtual reality terlalu mahal, bisa saja hal yang sama diimplementasikan, namun di unggah ke halaman internet. Learning history never been this fun.

Beberapa prasangka negatif pasti akan bermunculan, seperti “mengurangi nilai sejarah” atau “mengurangi esensi dari belajar”. Tapi bukankah lebih baik ada daripada tidak sama sekali?

Are You a Dish-Washing Robot?

Math with Bad Drawings

or, How to Avoid Thinking in Math Class #3

On Friday I realized—yet again—that my too-clever-for-their-own-good students were finding ways to answer questions without understanding the ideas.

Rather than reckon with the concept of slope, they were memorizing a complex rule:

20150121073701_00006

That’s all true, so far as it goes, but it’s as opaque and sinister as the tax code.

“Math is supposed to make sense!” I told them, and in my flailing to explain why, I found myself reaching for my favorite rhetorical tool: the overly-detailed analogy.

So, to see what math class is like for memorization-driven students, imagine that you’re a household robot.

20150121073701_00007

Lihat pos aslinya 800 kata lagi

Everything is connected, connection is a power

Ada sebuah kejadian yang masih teringat tentang pemilu dpr april 2014 lalu. Bukan soal rame-nya para calon menyalonkan dirinya, bukan tentang partai politik yang melakukan gerakan tiba-tiba untuk mendapat suara.

beberapa bulan sebelum pemilu, ayah saya pindah tempat kerja. yang berarti tidak bisa memilih ditempat barunya, kecuali mendapat surat keterangan dari kecamatan (or kelurahan whatever it is, idc). Karena ayah saya adalah seorang warga negara indonesia yang baik (is he?) maka ia pun mengutus anaknya untuk meminta surat dari pemerintah setempat.

What really pissed me off is, di era abad 21 ini, para pejabat malas ini lebih suka menyimpan data penduduk setempat dalam bentuk cetakan kertas. Saat akan mengisi data nama, alamat, TTL, dll. pejabat setempat masih mengambil folder dari lemari berdebunya, berisi 4 buku yang kira2 tebalnya 5 cm. AND THE WORST PART : DISURUH CARI SENDIRI. Singkat cerita, saya menghabiskan 30 menit berharga hanya untuk mencari data keluarga, 10 menit menulis kembali data tersebut, dan 100 ribu rupiah.

Hal seperti itu sebenarnya bisa dihindari dengan bantuan Database Management System (DBMS). Andai kata semua data penduduk Indonesia tersimpan di satu tempat secara digital, kemudian bisa diambil dan ter-update secara periodik di penting seperti pemilu, andai kata operasi pembuatan surat keterangan itu bisa dibuat secara digital, hidup banyak orang di Indonesia bisa menjadi lebih baik. Data warga seperti nama, NIP, alamat, dll. yang bisa memilih itu bisa diakses, maka pencarian data akan menyimpan waktu dan tenaga yang banyak. Sensus penduduk Indonesia tak lagi harus se-intensif dulu. Jika ada penambahan / pengurangan penduduk, hanya tinggal melakukan serangkaian proses sederhana untuk menghapus/menambahkan data. Hanya dengan menggunakan teknik percabangan sederhana, para warga yang sudah memenuhi kondisi bisa menggunakan suaranya saat pemilu. Jika segala sesuatu terkoneksi, jika segala sesuatu terhubung, banyak masalah sepele bisa teratasi.

Sayang sekali penggunaan teknologi dalam hal-hal yang sangat dibutuhkan dan krusial masih jarang dilihat di Indonesia. Di saat negara lain memilih presiden secara online, dan hasilnya bisa langsung diketahui publik, Indonesia masih menggunakan kertas dan tinta, yang berujung dengan perpecahan 2 kubu.

Shame.