Everything is connected, connection is a power

Ada sebuah kejadian yang masih teringat tentang pemilu dpr april 2014 lalu. Bukan soal rame-nya para calon menyalonkan dirinya, bukan tentang partai politik yang melakukan gerakan tiba-tiba untuk mendapat suara.

beberapa bulan sebelum pemilu, ayah saya pindah tempat kerja. yang berarti tidak bisa memilih ditempat barunya, kecuali mendapat surat keterangan dari kecamatan (or kelurahan whatever it is, idc). Karena ayah saya adalah seorang warga negara indonesia yang baik (is he?) maka ia pun mengutus anaknya untuk meminta surat dari pemerintah setempat.

What really pissed me off is, di era abad 21 ini, para pejabat malas ini lebih suka menyimpan data penduduk setempat dalam bentuk cetakan kertas. Saat akan mengisi data nama, alamat, TTL, dll. pejabat setempat masih mengambil folder dari lemari berdebunya, berisi 4 buku yang kira2 tebalnya 5 cm. AND THE WORST PART : DISURUH CARI SENDIRI. Singkat cerita, saya menghabiskan 30 menit berharga hanya untuk mencari data keluarga, 10 menit menulis kembali data tersebut, dan 100 ribu rupiah.

Hal seperti itu sebenarnya bisa dihindari dengan bantuan Database Management System (DBMS). Andai kata semua data penduduk Indonesia tersimpan di satu tempat secara digital, kemudian bisa diambil dan ter-update secara periodik di penting seperti pemilu, andai kata operasi pembuatan surat keterangan itu bisa dibuat secara digital, hidup banyak orang di Indonesia bisa menjadi lebih baik. Data warga seperti nama, NIP, alamat, dll. yang bisa memilih itu bisa diakses, maka pencarian data akan menyimpan waktu dan tenaga yang banyak. Sensus penduduk Indonesia tak lagi harus se-intensif dulu. Jika ada penambahan / pengurangan penduduk, hanya tinggal melakukan serangkaian proses sederhana untuk menghapus/menambahkan data. Hanya dengan menggunakan teknik percabangan sederhana, para warga yang sudah memenuhi kondisi bisa menggunakan suaranya saat pemilu. Jika segala sesuatu terkoneksi, jika segala sesuatu terhubung, banyak masalah sepele bisa teratasi.

Sayang sekali penggunaan teknologi dalam hal-hal yang sangat dibutuhkan dan krusial masih jarang dilihat di Indonesia. Di saat negara lain memilih presiden secara online, dan hasilnya bisa langsung diketahui publik, Indonesia masih menggunakan kertas dan tinta, yang berujung dengan perpecahan 2 kubu.

Shame.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s